Rabu, 22 Desember 2010

Asuhan Keperawatan Kardiomiopati Kongestif (Dilated Cardiomyopathy)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
KARDIOMIOPATI KONGESTIF (DILATED CARDIOMYOPATHY)



A. PENGERTIAN
Kardiomiopati adalah penyakit yang mengenai miokardium seara primer dan bukan sebagai akibat dari hipertensi, kelainan kongenital, katub, koroner, arterial dan perikardial (Lili Imudiarti Rilantono, dkk, 2001, hal 249).
Cardiomiopati kongestif disebut juga dengan nama Dilated Cardiomyopathy (A.H Markum, dkk, hal 615). Bentuk kardiomiopati ini digolongkan berdasarkan patologi, fisiologi dan tanda klinisnya. Penyakit ini ditandai dengan adanya dilatasi atau pembesaran rongga ventrikel bersama dengan adanya penipisan dinding otot, pembesaran atrium kiri dan stasis darah dalam ventrikel. (Susanne, C Smelzer, 2002, hal 833)

B. ETIOLOGI
Laporan Gugus Tugas WHO/ISFC tentang defisiensi dan klasifikasi kardiomiopati tahun 1980, berdasarkan etiologinya digolongkan menjadi 2 macam yaitu:
1. Tipe primer: terdiri dari penyakit otot yang tidak diketahui penyebabnya.
a. Idiopatik
b. Familial
2. Tipe sekunder : terdiri dari penyakit otot jantung dengan sebab yang diketahui atau berhubungan dengan penyakit yang mengenai sisitem organ lain.
a. Infektif
• Miokarditis virus
• Miokarditis bakteri
• Miokarditis jamur
• Miokarditis protozoa
• Miokarditis metazoa
b. Metabolik
c. Penyakit familial
• Penyakit glikogen
• Mukopolisakaridosis
d. Defisiensi
• Elektrolit
• Nutrisi
e. Kelainan jaringan ikat
• Lupus eritematosis sistemik
• Poliartritis nodusa
• Arthritis reumatoid
• Skleroderma
• Dermatomiositis
f. Infiltrasi dan granuloma
• Amiloidosis
• Sarkoidosis
• Keganasan
• Hematokromatosis
g. Neuromuskular
• Distrofi otot
• Distrofi miotonik
• Ataksia friedriech
• Penyakit refsom
h. Reaksi toksik dan sensitifitas
• Alkohol
• Radiasi
• Obat
i. Penyakit jantung peripartum
• Kehamilan multipara
• Usia lebih 30 tahun
(Lili Imudiarti Rilantono, dkk, 2001, hal 249).

C. PATHWAYS



D. MANIFESTASI KLINIK
• Sesak napas
• Lemah
• Orthopnea
• Dyspnea paroksimal nocturnal
• Edema perifer
• Palpitasi
• Nyeri dada ( yang tidak khas bisa timbul)
• Angina pectoris ( jika penyakit korner menyertainya)
(Lili Imudiarti Rilantono, dkk, 2001, hal 251)

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Rontgen
• Menunjukkan pembesaran jantung sedang-besar
• Hipertensi vena pulmonalis
2. EKG : menunjukkan kelainan ST-T
3. Ekokardiogram : berkesan dilatasi dan disfungsi ventrikel kiri
4. Radionuklir : menunjukkan dilatasi dan disfungsi ventrikel kiri ( RVG = ; ventrikulogram radionuklid ; TI = thaliun 201)
5. Kateterisasi jantung
• Dilatasi dan disfungsi ventrikel kiri dan kanan
• Curah jantung menurun
6. Angiografi : berkesan ventrikel kiri hipokinetik difus serta dilatasi, sering disertai dengan regurgitasi mitral
7. Biopsi Endomiokard transvenus
• Digunakan pada kondisi seperti infiltrasi miokard oleh amiloid
• Berkesan inflamasi sel bundar miokardium
(Lili Imudiarti Rilantono, dkk, 2001, hal 250-251)

F. PENATALAKSANAAN
1. Tirah baring (terutama untuk penyebab yang tidak diketahui)
2. Menghindari aktivitas jasmani yang berat
3. Medikamentosa:
• Anti koagulan untuk embolisasi sistemik
• Kardiotonika seperti: amrinaon dan milrinon untuk menambah perbaikan klinik
• Kortikosteroid untuk antiinflamasi
• Antiaritmia untuk aritmia yang serius atau simtomatis.
4. Tranplantasi jantung, harus dipertimbangkan dan dilakukan bila tidak ada kontra indikasi terhadap prosedur tersebut
(Lili Imudiarti Rilantono, dkk, 2001, hal 251)

G. KOMPLIKASI
Gagal jantung

(Susanne, C Smelzer, 2002, hal 835)

H. FOKUS PENGKAJIAN

WAWANCARA
1. Keluhan utama (chief complaint)  alasan datang
2. Keluhan dan keterangan tambahan (present illness)
3. Riwayat penyakit dahulu
4. Riwayat keluarga
5. Riwayat sosio ekonomi

PEMERIKSAAN FISIK

• KU: usia, kesadaran dan keadaan emosi kenyamanan, distress, sikap dan tingkah laku klien.
• Tanda- tanda vital
1. Pernafasan
frekuensi: bradipnea?, takipnea?
Keteraturan: reguler?, irreguler?
(cheyne stoke, asmatik?)
amplitudo
2. Nadi
frekuensi
regularitas
amplitudo: besarnya isi sekuncup
bentuk/ contour
isi (volume)
perabaan arteri keadaan dinding arteri
Pada tingkat lanjut tekanan nadi kecil
3. Tekanan darah
nilai normal bergantung: umur, jenis kelamin
Nilai rata- rata sistolik: 110-140 mmHg
Diastolik: 80-90 mmHg
4. Suhu badan
Metabolisme menurun, suhu menurun

Head to toe examination
1. Kepala
2. Mata: konjungtiva: anemia?
sklera, ikterus?
3. Mulut: tanda infeksi?
4. Kuping
5. Muka; ekspresi, anemia?
6. Leher: KGB? Tekanan vena jugularis externa meningkat
7. Dada: deformitas?gerakan dada?
8. Pemerikasaan perut: asites?perabaan hati dan limpa?
9. Ekstremitas
Lengan- tangan:refleks. Warna dan tekstur kulit, edema, clubbing
bandingkan arteri radialis kiri dan kanan




Pemeriksaan Khusus Jantung
1. Inspeksi
Mid Sternal line
Mid clavikular line
Anterior aksilar line
Para sternal line
2. Palpasi Jantung
Pulsasi ventrikel kiri
Pulsasi ventrikel kanan
Getar jantung
Didapatkan adanya berbagai tingkat pembesaran jantung.
3. Auskultasi
Biasanya terdengar bunyi jantung ketiga dan keempat . Juga dapat timbul bising diastolik.

Selasa, 21 Desember 2010

Asuhan Keperawatan Eksotropia

ASUHAN KEPERAWATAN
EKSOTROPIA


A. PENGERTIAN
Strabismus adalah efek penglihatan dimana kedua mata tidak tertuju pada satu obyek yang menjdi pusat perhatian. Satu mata bisa terfokus pada satu obyek sedangkan mata yang lain dapat bergulir ke dalam, ke luar, ke atas, atau ke bawah.
Sedangkan eksotropia atau juling keluar merupakan bentuk lain dari juling yang sering ditemukan. Bentuk juling ini paling sering terjadi saat seseorang berfokus pada obyek yang jauh. Sering ditemukan pada masa bayi dan anak-anak. Insidensinya meningkat seiring dengan bertambahnya usia.

B. KLASIFIKASI
1. Eksotropia dasar
Deviasi dekat kurang lebih sama dengan deviasi jauh
2. Eksotropia ok ekses deviasi (melebar yang berlebihan)
Deviasi jauh lebih besar daripada deviasi dekat
3. Eksotropia ok insuficiency convergensi (tidak bisa konvergensi)
Deviasi dekat lebih besar daripada deviasi jauh
4. Eksotropia ok ekses pseudodivergensi
Deviasi jauh jelas jelas lebih besar daripada deviasi dekat, namun pemakaian lensa + 3 dioptri untuk pengukuran dekat akan menyebabkan eviasi dekat mendekati deviasi jauh

C. ETIOLOGI
Penyebab pasti belum diketahui, tetapi pada beberapa kasus unsur herediter atau keturunan sangatlah mungkin terjadi. Tetapi mata juling lazim ditemukan pada anak-anak dengan kelainan otak, seperti :
• Down syndrom
• Hidrocephalus
• Cerebral palsy
• Tumor otak
• Anak yang lahir prematur
• Kemunduran daya penglihatan atau ambliopia
• Kongenital

D. MANIFESTASI KLINIK
1. Bila melirik, perguliran bola mata tidak sampai ke ujung
2. Mata yang tidak lurus
3. Penutupan atau memicingkan satu mata pada cahaya terang
4. Bila melihat obyek jauh, akan ada 2 bayangan

E. PATOFISIOLOGI
Anatomi indera penglihatan dikatakan normal jika bayangan sebuah benda yang dilihat oleh kedua mata diterima dengan ketajaman yang sama. Bayangan ini secara serentak akan dikirim ke Susunan Saraf Pusat (SSP) untuk diolah sensasi penglihatan tunggal, penglihatan tunggal ini bisa terjadi kalau kedua mata dapat mempertahankan daya koordinasi untuk menjadikan kedua bayangan suatu benda menjadi satu (fusi). Sebaliknya fusi akan hilang bila daya penglihatan salah satu mata berkurang atau bahkan tidak ada.
Pada penderita mata juling, mata tidak mempunyai satu kesatuan titik pandang. Kedudukan sumbu kedua bola mata itu tidak searah, akibatnya mata akan melihat dua benda atau dua bayangan (diplopia). Untuk menghindari penglihatan rangkap ini, penderita strabismus lalu berusaha supresi atau tidak menggunakan matanya yang sakit. Mereka hanya akan melihat dengan matanya yang sehat. Sebab itu, penderita strabismus sering mengeluh mudah lelah atau merasa penglihatannya berkurang pada satu matanya.

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Menurut dr. Raman R. Saman, M.D. Ophth., AMS, MBA, ahli mata dari RS Prof. Dr. Isak Salim ”Aini” Jakarta mengungkapkan bahwa untuk mengetahui penyebab lebih lanjut perlu pemeriksaan menyeluruh mulai dari anatomi mata, fafal atau fisiologi, sampai apakah sipenderita mengidap penyakit tertentu.
Tes mata : tes pemeriksaan penglihatan

G. PENATALAKSANAAN
Kalau masalahnya berhubungan dengan refraksi atau ketajaman penglihatan bisa ditanggulangi dengan kacamata. Kacamata bisa spheris, silinder atau prism, bisa juga dengan lensa kontak (terutama bagi yang minusnya tinggi)
Koreksi bedah refraktif untuk mengurangi kelainan rabun dengan menggunakan pisau bedah atau laser excimer
Bila persoalannya menyangkut otot, bisa dilakuakn pembedahan sesuai dengan kebutuhan misalnya otot yang kepanjangan dipendekkan (diresek), sebaliknya otot yang kepanjangan dipendekkan dengan menggeser lokasi perlekatan pangkal otot (reses terhadap insersi otot)
Bila juling akibat kecelakaan (trauma), umumnya dikoreksi dengan tindakan pembedahan


PATHWAYS


H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan sensori perseptual : penglihatan b.d. daya penglihatan menurun
2. Resiko cedera berhubungan penglihatan ganda (diplopia)
3. Resti infeksi b.d. post de entry kuman
4. Resiko gangguan harga diri rendah b.d. perubahan penampilan
5. Nyeri b.d. tindakan invasif
6. Ansietas b.d. kurang informasi tentang prosedur operasi

I. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Gangguan sensori perseptual : penglihatan b.d. daya penglihatan menurun
Tujuan : Daya penglihatan membaik dengan kriteria hasil :
a. Pasien dapat melihat dengan jelas
b. Mata tidak mudah lelah
c. Visus mata tidak menurun
Intervensi :
Tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau dua mata terlibat
Rasional : kebutuhan individu dan pilihan intervensi bervariasi sebab kehilangan penglihatan terjadi lambat dan progresif, bila bilateral tiap mata tetap berlanjut pada laju yang berbeda tetapi biasanya hanya satu mat yang diperbaiki per prosedur
Orientasikan pasien terhadap lingkungan, perawat, pasien lain di sekitarnya.
Rasional : meningkatkan rasa nyaman dan kekeluargaan
Letakkan barang yang dibutuhkan dalam jangkauan
Rasional : memungkinkan pasien melihat obyek lebih mudah
Observasi tanda-tanda disorientasi ; pertahankan pengaman tempat tidur
Rasional : menurunkan resiko jatuh apabila pasien bingung akibat keterbatasan penglihatan


2. Resiko cedera berhubungan penglihatan ganda (diplopia)
Tujuan : pencegahan terhadap cedera dengan KH :
a. Tidak terjadi cedera pada mata
b. Mampu melakukan aktifitas dengan aman di lingkungannya
Intervensi :
Orientasikan pasien pada lingkungan
R : meningkatkan keamanan mobilitas dalam lingkungan
Bantu pasien menata lingkungan, jangan mengubah penataan meja kursi tanpa diorientasikan pada pasien terlebih dahulu
R : memfasilitasi kemandirian dan menurunkan resiko cedera
Anjurkan menggunakan perisai metal atau kacamata bila diperintahkan
R : tameng logam atau kacamata melindungi mata terhaap cedera


DAFTAR PUSTAKA

Vaughan, Daniel G. Ashbury, Taylor. Riordan-Eva, Paul. 2000. ”Oftalmologi Umum ”. Jakarta: Widya Medika
Doengoes, Marylinn E. 2000. ”Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien”. Jakarta: EGC
Smetlzer, Suzanne C. Bare, Brenda G. 2002. ”Buku Ajar Keperawatan Medikal – Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8”. Jakarta: EGC


Decompensasi Cordis / Payah Jantung

DECOMPENSASI CORDIS / PAYAH JANTUNG


BATASAN
Suatu kondisi bila cadangan jantung normal (peningkatan frekwensi jantung, dilatasa, hipertrophi, peningkatan isi sekuncup) untuk berespon terhadap stress tidak adekwat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, jantung gagal untuk melakukan tugasnya sebagai pompa, dan akibatnya gagal jantung.

PENYEBAB KEGAGALAN
- Disritmia (bradikardi,tachicardi)
- Malfungsi katub (stenosis katub pulmonal/aortik)
- Abnormalitas otot jantung (kardiomiopati, aterosklerosis koroner)
- Angina pectoris, berlanjut infark miocard akut.
- Ruptur miokard

RESPON TERHADAP KEGAGALAN
A. Peningkatan tonus simpatis
Peningkatan sistem saraf simpatis yang mempengaruhi arteri vena jantung. Akibatnya meningkatkan aliran balik vena ke jantung dan peningkatan kontraksi. Tonus simpatis membantu mempertahankan tekanan darah normal.
B. Retensi air dan natrium
Bila ginjal mendeteksi adanya penurunan volume darah yang ada untuk filtrasi, ginjal merespon dengan manahan natrium dan air dengan cara demikian mencoba untuk meningkatkan volume darah central dan aliran balik vena.

PENGKAJIAN GAGAL JANTUNG
a. Kegagalan ventrikel kiri
Tanda dan gejala :
- Kongesti vaskuler pulmonal
- Dispnoe, nyeri dada dan syok
- Ortopnoe, dispnoe nocturnal paroxismal
- Batuk iritasi, edema pulmonal akut
- Penurunan curah jantung
- Gallop atrial –S4, gallop ventrikel-S1
- Crackles paru
- Disritmia pulsus alterans
- Peningkatan BB
- Pernafasan cyne stokes
- Bukti-bukti radiografi tentang kongesti vaskuler pulmonal
b. kegagalan ventrikel kanan
Tanda dan gejala :
- Cirah jantung rendah
- Distensi vena jugularis
- Edema
- Disritmia
- S3 dan S4 ventrikel kanan
- Hipersonor pada perkusi
- Immobilisasi diafragma rendah
- Peningkatan diameter pada antero posterial

Klasifikasi gagal jantung (menurut Killip)
I. Tidak gagal
II. Gagal ringan sampai menengah
III. Edema pulmonal akut
IV. Syock kardiogenik

Sifat nyeri pada pasien dengan decompensasi cordis
1. Akut
Timbul secara mendadak dan segera lenyap bila penyebab hilang. Ditandai oleh : nyeri seperti tertusuk benda tajam, pucat, disritmia, tanda syock kardiogenik (akral dingin gan perfusi turun)
2. Kronis
Nyeri yang terjadi berkepanjangan hingga berbulan-bulan. Penyebab sulit dijelaskan dan gejala obyektif lidak jelas umumnya disertai dengan gangguan kepribadian serta kemampuan fungsional

Derajat nyeri
I. Ringan : tidak mengganggu ADL dan pasien dapat tidur
II. Sedang : mengganggu ADL dan pasien dapat tidur
III. Berat : mengganggu ADL dan pasien tidak dapat tidur

PENATALAKSANAAN GAGAL JANTUNG
Bertujuan :
A. menurunkan kerja jantung
B. Meningkatkan gurah jantung dan kontraktilitas miocard
C. Menurunkan retensi garam dan air

Pelaksanaannya meliputi :
A. Tirah Baring
Kebutuhan pemompaan jantung diturunkan, untuk gagal jantung kongesti tahap akut dan sulit disembuhkan.
B. Pemberian diuretik
Akan menurunkan preload dan kerja jantung
C. Pemberian morphin
Untuk mengatasi edema pulmonal akut, vasodilatasi perifer, menurunkan aliran balik vena dan kerja jantung, menghilangkan ansietas karena dispnoe berat.
D. Reduksi volume darah sirkulasi
Dengan metode plebotomi, yaitu suatu prosedur yang bermanfaat pada pasien dengan edema pulmonal akut karena tindakan ini dengan segera memindahkan volume darah dari sirkulasi sentral, menurunkan aliran balik vena dan tekanan pengisian serta sebaliknya menciptakan masalah hemodinamik segera.

E. Terapi nitrit
Untuk vasodilatasi perifer guna menurunkan afterload.
F. Terapi digitalis
Obat utama untuk meningkatkan kontraktilitas (inotropik), memperlambat frekwensi ventrikel, peningkatam efisiensi jantung.
G. Inotropik positif
- Dopamin
Pada dosis kecil 2,5 s/d 5 mg/kg akan merangsang alpha-adrenergik beta-adrenergik. Dan reseptor dopamine ini mengakibatkankeluarnya katekolamin dari sisi penyimpanan saraf. Memperbaiki kontraktilitas curah jantung isi sekuncup. Dilatasi ginjal-serebral dan pembuluh koroner. Pada dosis maximal 10-20 mg/kg BB akan menyebabkan vasokonstriksi dan meningkatkan beban kerja jantung.
- Dobutamin
Merangsang hanya betha adrenergik. Dosis mirip dopamine memperbaiki isi sekuncup, curah jantung dengan sedikit vasokonstriksi dan tachicardi.

Tindakan-tindakan mekanis
- Dukungan mekanis ventrikel kiri (mulai 1967) dengan komterpulasi balon intra aortic / pompa PBIA. Berfungsi untuk meningkatkan aliran koroner, memperbaiki isi sekuncup dan mengurangi preload dan afterload ventrikel kiri.
- Tahun 1970, dengan extracorporeal membrane oxygenation (ECMO). Alat ini menggantikan fungsi jantung paru. Mengakibatkan aliran darah dan pertukaran gas. Oksigenasi membrane extrakorporeal dapat digunakan untuk memberi waktu sampai tindakan pasti seperti bedah bypass arteri koroner, perbaikan septum atau transplantasi jantung dapat dilakukan.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Gangguan rasa nyaman (nyeri) sehubungan dengan adanya kerusakan miokardium yang luas ditandai dengan adanya kegagalan kompensasi jantung yaitu ; akral dingin, dispnea, pucat, kesadaran menurun, gelisah.

Tujuan :
Gangguan rasa nyaman (nyeri) hilang dalam waktu 1 jam.
Kriteria hasil :
- Nyeri dada hilang
- Pasien tenang
- Pasien merasa nyaman dan tidak cemas

INTERVENSI
1. Lakukan pendekatan terapeutik
2. Jelaskan mengenai penyakit dan tindakan yang akan dilakukan.
3. Tenangkan pasien sehingga tidak cemas akan penyakitnya
4. Tirah baring sesuai dengan keadaan pasien
5. Observasi tanda-tanda vital
6. Kolaborasi dengan team medis untuk pemberian : oksigen, cairan, analgetik central (morphin), terapi digitalis, nitrit dan inotropik positit.
REFERENSI

Lewis T, Disease of The Heart, New York, Macmillan 1993

Morris D. C. et.al, The Recognation and treatment of Myocardial Infarction and It’sComplication.

Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik, edisi VI, volume I : Hudak dan Gallo Hal. 360-379, Penerbit buku kedokteran.


Asuhan Keperawatan Gagal Jantung, Congestive Heart Failure

ASUHAN KEPERAWATAN GAGAL JANTUNG
CONGESTIVE HEART FAILURE


Jantung merupakan struktur kompleks yang terdiri dari jaringan fibrosa, otot-otot jantung dan jaringan konduksi listrik. Jantung mempunyai fungsi utama untuk memompakan darah. Hal ini dapat dilakukan bila kemampuan otot jantung memompa cukup baik. Bila ditemukan ketidaknormalan pada salah satu pada salah satu bagian di atas maka akan mempengaruhi efisiensi pemompaan dan kemungkinan dapat menyebabkan kegagalan dalam memompa yang disebut sebagai gagal jantung, kegagalan jantung, payah jantung, dekompensasio cordis, gagal jantung kongestif (congestive heart failure (CHF)), heart failure, dan lain-lain.

A. Pengertian
Gagal jantung adalah suatu keadaan patofisiologis adanya kelainan fungsi jantung akibat gagal memompakan darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan dan/atau kemampuannya hanya kalau disertai peninggian tekanan pengisian ventrikel kiri.(Braunwald, 1992)
Gagal jantung kongestif adalah suatu sindrom klinis yang rumit yang ditandai dengan adanya abnormalitas fungsi ventrikel kiri dan regulasi neurohormonal, disertai dengan intoleransi kemampuan kerja fisik, retensi cairan, dan memendeknya umur hidup.(Packer, 1990)

B. Etiologi
Menurut Backward dan Forward kalau ventrikel gagal mengosongkan darah maka:
1. Isi dan tekanan (volume dan pressure) pada akhir fase diastolic (end-diastolic pressure) meninggi.
2. Isi dan tekanan akan meninggi pada atrium bagian belakang ventrikel yang gagal
3. Atrium ini akan bekerja lebih (sesuai dengan hukum Frank-Starling).
4. Tekanan pada vena dan kapiler di belakang ventrikel yang gagal akan meninggi.
5. Terjadi transudasi pada jaringan interstitial (baik pulmonal maupun sistemik).



Sebab-sebab Gagal Jantung Secara Menyeluruh
A. Kelainan Mekanis
1. Peningkatan beban tekanan:
a. Sentral (stenosis aorta)
b. Perifer (hipertensi sistemik)
2. Peningkatan beban volume (regurgitasi katup, pirau, peningkatan beban awal)
3. Obstruksi terhadap pengisian ventrikel (stenosis mitralis atau trikuspidalis)
4. Tamponade pericardium
5. Restriksi endokardium atau miokardium
6. Aneurisme ventrikel
7. Disinergi ventrikel
B. Kelainan Miokardium
1. Primer
a. Kardiomiopati
b. Miokarditis
c. Kelainan metabolic
d. Toksisitas (alcohol, kobalt)
e. Presbikardia
2. Kelainan dis-dinamik sekunder (sekunder terhadap kelainan mekanis)
a. Kekurangan oksigen (penyakit jantung koroner)
b. Kelainan metabolic
c. Inflamasi
d. Penyakit sistemik
e. Penyakit paru obstruksi menahun (PPOM)
C. Berubahnya irama jantung atau urutan konduksi
1. Henti jantung
2. Fibrilasi
3. Takikardia atau bradikardi yang berat
4. Asinkroni listrik, gangguan konduksi
Darl Husrt JW, et.al: The Heart, vol 1, ed 7, New York, 1990, McGraw-Hill Book Co

C. Patofisiologi



D. Pengkajian
Gejala-gejala yang ringan permulaan muncul pada latihan/aktivitas fisik yang berat kemudian semakin lama terjadi penurunan toleransi aktivitas yang lebih ringan. Adapun gejala-gejala antara lain:
Gagal jantung kiri Gagal jantung kanan
Dispnea
Ortopnea
Dispnea noctural paroksismal (PND) spesifik gagal jantung kiri
Asma kardial
Batuk nonproduktif
Hemoptisis
Crackles paru
Gallop atrial
Gallop ventrikel
Pernapasan Cheyne Stokes
Radiografi kongestif vaskuler pulmonal
Peningkatan jugularis vena pressure (JVP)
Curah jantung rendah
Hepatomegali
Gejala saluran cerna: anoreksia, rasa penuh, atau mual
Edema perifer
Nokturia, Asites, Edema anasarka
Kulit pucat dan dingin
Kakeksia kardia
Takikardia hipotensi sistolik
Penurunan bunyi napas

Klasifikasi Gagal Jantung
I : Tidak gagal
II : Gagal ringan sampai menengah
III : Edema pulmonal akut
IV : Syok kardiogenik
Laboratorium & Foto Rontgen
Hiponatremia
Hiperkalemia
BUN dan kreatinin meningkat
Berat jenis urin meningkat
Pemanjangan masa protrombin ringan
Peningkatan bilirubin dan enzim hati, AST dan fosfatase alkali
Foto dada AP dan Radiografi
E. Penanganan
Panduan Penanganan Gagal Jantung Kronik
1. Pembatasan aktivitas fisik
a. Hentikan olah raga dan kerja yang berat
b. Hentikan kerja purna waktu atau aktivitas yang setara, mulai terapkan adanya fase istirahat siang
c. Terbatas di rumah
d. Terbatas di tempat tidur, kursi
2. Pembatasan asupan natrium
a. Singkirkan botol garam di atas meja makan (Na = 1,6 – 2,8 gram)
b. Jangan memberi garam sewaktu memasak dan singkirkan botol botol garam di atas meja makan (Na = 1,2 – 1,8 gram)
c. Laksanakan a.dan b dan diet rendah natrium (Na = 0,2 – 1,0 gram)
3. Glikosida digitalis
a. Dosis rumatan biasa
b. Dosis yang ditoleransi maksimal
4. Diuretik
a. Diuretik sedang (seperti tiazid)
b. Diuretic simpai (seperti furosemid)
c. Diuretic simpai dan diuretik tubulus distal (hemat kalium)
d. Diuretic simpai, tiazid, dan diuretik tubulus distal (hemat kalium)
5. Vasodilator
a. Kaptopril, enapril, atau kombinasi dari hidralazin dan isosorbid dinitrat
b. Intesifikasi rejimen vasodilator oral
c. Nitroprusid intravena
6. Agen inotropik lain: dopamine, dobutamin, amniron
7. Tindakan khusus
a. Pertimbangkan transplatasi jantung
b. Dialysis
c. Sirkulasi yang dibantu: pompa balon intraaorta (IABP), alat bantu ventrikel kiri (LVAD), jantung buatan
Photobucket