Kamis, 22 Desember 2011

Stimulasi Perkembangan Anak

STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK


Tujuan tindakan memberikan stimulasi pada anak adalah untuk membantu anak mencapai tingkat perkembanagan yang optimal atau sesuai dengan yang diharapkan. Tindakan ini meliputi berbagai aktivitas untuk merangsang perkembangan anak, seperti latihan gerak, berbicara, berpikir, kemandirian dan sosialisasi. Stimulasi dilakukan oleh orang tua (keluarga) setiap ada kesempatan atau sehari - hari. Stimulasi disesuaikan dengan umur dan prinsip stimulasi.
Tindakan pemberian stimulasi dilakukan dengan prinsip bahwa stimulasi merupakan ungkapan kasih sayang, bermain dengan anak, berbahagia bersama; stimulasi dilakukan bertahap dan berkelanjutan, dan mencakup empat bidang kemampuan perkembangan stimulasi dimulai dari tahap yang sudah dicapai oleh anak; stimulasi dilakuakan dengan wajar, tanpa paksaan atau hukuman atau marah apabila anak tidak mampu melakukannya. Memberikan pujian bila anak berhasil; stimulasi dilengkapi dengan alat bantu sederhana dan mudah didapat, misalnya mainan yang dibuat sendiri dari bahan bekas, alat yang ada dirumah atau benda yang ada dilingkungan sekitar.






Bayi umur 0 – 3 bulan
Tugas perkembangan ( keterampilan yang harus dicapai ) :
 Dapat menggerakkan kedua lengan dan kaki sama mudahnya ( GK )
 Bereaksi dengan melihat kearah sumber cahaya ( GH )
 Mengoceh dan bereaksi terhadap suara ( BBK )
 Bereaksi senyum terhadap ajakan ( BM )
Stimulasi yang diperlukan pada bayi 0 – 3 bulan
 Bergaul dan mandiri
Ajaklah bayi anda berbicara dengan lembut, dibuai, dipeluk, dinyanyikan lagu, dan lain lain
 Bicara, bahasa dan kecerdasan
Ajaklah bayi anda berbicara, mendengarkan berbagai suara ( suara burung, radio, dan lain lain )
 Gerak kasar
Latih bayi anda mengangkat kepala pada posisi telungkup dan memperhatikan benda bergerak
 Gerak halus
Latih bayi anda mengenggam benda kecil

Bayi umur 3 – 6 bulan
Tugas perkembangan ( keterampilan yang haus dicapai )
 Menegakkan kepala pada saat telungkup ( GK )
 Meraih benda yang terjangkau ( GH )
 Menengok kearah sumber suara ( BBK )
 Mencari benda yang dipindahkan ( BM )
Stimulasi yang diperlukan pada bayi 3 – 6 bulan :
 Bergaul dan mandiri
Latih bayi anda mencari sumber suara
 Bicara, bahasa dan kecerdasan
Latih bayi anda menirukan suara/bunyi/kata
 Gerak kasar
Latih bayi anda menyangga leher dengan kuat
 Gerak halus
Latih bayi anda meraup benda kecil


Bayi umur 6 – 9 bulan
 Tugas perkembangan ( keterampilan yang harus dicapai )
 Ketika didudukkan dapat bertahan dengan kepala tegak ( GK )
 Memindahkan benda dari tangan satu ketangan yang lain ( GH )
 Tertawa/ berteriak melihat benda menarik ( BBK )
 Makan biskuit tanpa dibantu ( BM )
Stimulasi yang diperlukan bayi 6 – 9 bulan
 Gerak kasar
Latih anak berjalan dengan berpegangan
 Gerak halus
Latih anak memasukkan dan mengeluarkan benda dari wadah
 Bicara, bahasa dan kecerdasan
Latih anak menirukan kta kata
 Bergaul dan mandiri
Ajak anak bermain dengan orang lain

Bayi umur 9-12 bulan
Tugas perkembangan
 Berjalan dengan berpegangan ( GK )
 Dapat meraup benda benda kecil ( GH )
 Mengatakan dua suu kata yang sama ( BBK )
 Bereaksi terhadap permainan “ ciluk ba “ ( BM )
Stimulasi yang diperlukan
 Gerak kasar
Latih anak berjalan sendiri
 Gerak halus
Ajak anak menggelinding bola
Gelindingan bola kearah anak dan inta agar ia mengelindingkannya kembali
 Bicara, bahasa dan kecerdasan
Latih anak menirukan kata kata
Kenalkan kata kata baru sambil menunjukkan gambarnya.
 Bergaul dan mandiri
Ajak anak mengikuti kegiatan keluarga, misalnya makan bersama

Bayi umur 12 – 8 bulan
Tugas perkembangan
 Bejalan sndiri tidak jatuh
 Mengambil benda kecil dengan ibu jari dan telunjuk ( GH )
 Mengungkapkan keinginan secara sederhana ( BBK )
 Minum sendiri dari gelas tidak tumpah ( BM )
Stimulasi yang diperlukan
 Gerak kasar
Latih anak naik turun tangga
 Gerak halus
Bermain dengan anak melmpar dan menangkap bola besar kemudian bola kecil
 Bicara, bahasa dan kecerdasan
Lath anak menunjuk dan menyebutkan nama nama bagian tubuh
 Bergaul dan berbicara
Beri kesempatankepada anak untuk melepaskana pakaiannya sendiri
Bayi umur 18 – 24 bulan
Tugas prkembangan
 Berjalan mundur sedikinya lima langkah ( GK )
 Mencorat coret engan alat tulis ( GH )
 Menunjukan bagian tubuh dan menyebutkan namanya ( BBK )
 Meniru melakukan pekerjaan rumah tangga ( BM )
Stimulasi yang diperlukan
 Gerak kasar
Latih anak berdiri dengan satu kaki
 Gerak halus
Ajari anak menggambar bulatan. Garis egutiga dan gambar wajah
 Bicara, bahsa dan kecerdasan
Latih anak mengiui perintah sederhana
 Bergaul dan mandiri
Latih anak agar mau ditinggalkan untuk sementara waktu
Anak umur 2 – 3 tahun
Tugas pekembangan
 Berdiri dengan satu kaki tanpa berpegangan, sediitnya dua hitungan ( GK )
 Meniru membuat garis lurus ( GH )
 Menyatakan keinginan sedikitnya dengan dua kata ( BBK )
 Melepas pakaian sendiri ( BM )
Stimulasi yang diperlukan
 Gerak kasar
Latih anak melompat dengan satu kaki
 Gerak halus
Ajak anak bermain menyusun dan menumpuk balok
 Bicara, bahasa dan kecerdasan
Latih anak mengenal bentuk dan warna
 Bergaul dan mandiri
Latih anak mencuci tangan dan kaki serta mengeringkan sendiri
Anak umur 3 – 4 tahun
Tugas perkembangan
 Berjalan jinjit ( GK )
 Membuat gambar lingkaran ( GH )
 Mengenal sedikitnya satu warna ( BBK )
 Mematuhi cara permainan sederhana ( BM )
Stimulasi yang diperlukan anak 3 - 4 tahun
 Gerak kasar
Latih anak melopat dengan satu kaki
 Gerak halusLatih anak mengunting dan membuat buku cerita dengan gambar
 Bicara, bahasa dan kecerdasan
Latih anak mengenal bentuk dan warna
 Bergaul dan mandiri
Latih anak mengenal sopan santun, beterima kasih, mencium tangan dan lain lain
Anak umur 4 – 5 tahun
Tugas perkembanagn
 Berdiri dengan satu kaki ( GK )
 Dapat mengancingkan baju ( GH )
 Dapar bercerita sederhana ( BBK )
 Dapat mencuci tangan sendiri ( BM )
Stimulasi yang diperlukan
 Gerak kasar
Beri esempatan anak melakukan permainan yang memerlukan ketangkasan dan kelincahan
 Gerak halus
Bantu anak menggambar
 Bicara, bahasa dan kecerdasan
Bantu anak mengerti satu eparuh dengan cara membagikan kue / kertas
 Bergaul dan mandiri
Latih anak untuk mandiri, misalnya bermain tangga.
Anak umur 5 – 6 tahun
Tugas perkembangan
 Menangkap bola kasti pada jarak 1 meter ( GK )
 Membuat gambar egi empat ( GH )
 Mengenal angka dan huruf serta menghitung ( BBK )
 Berpakaian sendiri tanpa bantuan ( BM )
Stimulai yang diperlukan
 Gerak kasar
Latih anak naik sepeda
 Gerak halus
Latih anak kreatif membuat sesuatu dari lilin/tanah liat
 Bicara, bahasa dan kecerdasan
Latih anak mengenl waktu hari, minggu dan bulan
 Bergaul dan mandiri
Latih anak bercakap cakap dengan temansebayanya.

Thalassemia

THALASSEMIA
DEFINISI
Thalassemia adalah sekelompok penyakit keturunan yang merupakan akibat dari ketidakseimbangan pembuatan salah satu dari keempat rantai asam amino yang membentuk hemoglobin.


PENYEBAB
Ketidakseimbangan dalam rantai protein globin alfa dan beta, yang diperlukan dalam pembentukan hemoglobin, disebabkan oleh sebuah gen cacat yang diturunkan.
Untuk menderita penyakit ini, seseorang harus memiliki 2 gen dari kedua orang tuanya.
Jika hanya 1 gen yang diturunkan, maka orang tersebut hanya menjadi pembawa tetapi tidak menunjukkan gejala-gejala dari penyakit ini.

Thalasemia digolongkan bedasarkan rantai asam amino yang terkena.
2 jenis yang utama adalah Alfa-thalassemia (melibatkan rantai alfa) dan Beta-thalassemia (melibatkan rantai beta).

Thalassemia juga digolongkan berdasarkan apakah seseorang memiliki 1 gen cacat (Thalassemia minor) atau 2 gen cacat (Thalassemia mayor).

Alfa-thalassemia paling sering ditemukan pada orang kulit hitam (25% minimal membawa 1 gen), dan beta-thalassemia pada orang di daerah Mediterania dan Asia Tenggara.

1 gen untuk beta-thalassemia menyebabkan anemia ringan sampai sedang tanpa menimbulkan gejala; 2 gen menyebabkan anemia berat disertai gejala-gejala.
Sekitar 10% orang yang memiliki paling tidak 1 gen untuk alfa-thalassemia juga menderita anemia ringan.


GEJALA
Semua thalassemia memiliki gejala yang mirip, tetapi beratnya bervariasi.
Sebagian besar penderita mengalami anemia yang ringan.

Pada bentuk yang lebih berat, misalnya beta-thalassemia mayor, bisa terjadi sakit kuning (jaundice), luka terbuka di kulit (ulkus, borok), batu empedu dan pembesaran limpa.

Sumsum tulang yang terlalu aktif bisa menyebabkan penebalan dan pembesaran tulang, terutama tulang kepala dan wajah.
Tulang-tulang panjang menjadi lemah dan mudah patah.

Anak-anak yang menderita thalassemia akan tumbuh lebih lambat dan mencapai masa pubertas lebih lambat dibandingkan anak lainnya yang normal.

Karena penyerapan zat besi meningkat dan seringnya menjalani transfusi, maka kelebihan zat besi bisa terkumpul dan mengendap dalam otot jantung, yang pada akhirnya bisa menyebabkan gagal jantung.


DIAGNOSA
Thalassemia lebih sulit didiagnosis dibandingkan penyakit hemoglobin lainnya.

Hitung jenis darah komplit menunjukkan adanya anemia dan rendahnya MCV (mean corpuscular volume).

Elektroforesa bisa membantu, tetapi tidak pasti, terutama untuk alfa-thalassemia.
Karena itu diagnosis biasanya berdasarkan kepada pola herediter dan pemeriksaan hemoglobin khusus.



PENGOBATAN
Pada thalassemia yang berat diperlukan transfusi darah rutin dan pemberian tambahan asam folat.
Penderita yang menjalani transfusi, harus menghindari tambahan zat besi dan obat-obat yang bersifat oksidatif (misalnya sulfonamid), karena zat besi yang berlebihan bisa menyebabkan keracunan.

Pada bentuk yang sangat berat, mungkin diperlukan pencangkokan sumsum tulang.

Terapi genetik masih dalam tahap penelitian.


PENCEGAHAN
Pada keluarga dengan riwayat thalassemia perlu dilakukan penyuluhan genetik untuk menentukan resiko memiliki anak yang menderita thalassemia.



Actuating

ACTUATING

A. Pengertian
Setelah perencanaan dan pengorganisasian selesai dilakukan, maka langkah selanjutnya yang perlu ditempuh dalam manajemen adalah mewujudkan rencana tersebut dengan mempergunakan organisasi yang terbentuk.Langkah tersebut adalah actuating yang secara harfiah diartikan sebagai memberi bimbingan namun istilah tersebut lebih condong diartikan penggerak atau pelaksanaan. Secara praktis fungsi actuating ini merupakan usaha untuk menciptakan iklim kerjasama diantara staf pelaksana program sehingga tujuan organisasi dapat tercapai secara efektif dan efisien. Fungsi actuating tidak terlepas dari fungsi manajemen melalui bagan dibawah ini :














B. Tujuan
Tujuan fungsi aktuating ( penggerakan ) adalah :
1. Menciptakan kerjasama yang lebih efisien
2. Mengembangkan kemampuan dan keterampilan staf
3. Menumbuhkan rasa memiliki dan menyukai pekerjaan
4. Mengusahakan suasana lingkungan kerja yang dapat meningkatkan motivasi dan prestasi kerja staf
5. Membuat organisasi berkembang lebih dinamis

C. Fungsi penggerakan
Fungsi aktuasi haruslah dimulai dari diri manager dengan menunjukkan kepada staf bahwa dia memiliki tekat untuk mencapai kemajuan dan peka terhadap lingkungannya. Ia harus memiliki kemampuan kerjasama, harus bersikap obyektif.
Ada 4 jenis utama fungsi penggerakan
1. Koordinasi kegiatan
Untuk setiap kegiatan yang akan diterapkan sesuai rencana, manajemen harus memastikan bahwa semua kegiatan sebelumnya telah dilaksanakan tepat pada waktunya. Untuk mengkoordinasi pekerjaan tim kesehatan, pekerja kesehatan yang bertugas harus :
a. Mengkoordinasikan fungsi para aggota tim kesehatan
b. Mengkoordinasikan kegiatan
c. Menyampaikan keputusan
2. Penempatan orang dalam jumlah, waktu dan tempat yang tepat meliputi mengorganisasikan, mengarahkan dan mengawasi
3. Mobilisassi dan alokasi sumber daya fisik dan dana yang diperlukn meliputi :
a. Pemantauan dan pengawasan
b. Logistik ( perolehan, penyaluran, penyimpanan, pengiriman, penyebaran dan pengembalian barang )
c. Akuntasi
d. Organisasi
4. Keputusan yang berkenaan dengan informasi yang diperlukan
Berkaitan dengan pembuatan keputusan secara umum dan khusus dengan koordinasi kegiatan, manajemen tenaga kerja dan sumber daya selama penerapan.
D. Faktor - faktor penghambat fungsi penggerakan
Kegagalan manajer dalam menumbuhkan motivasi stafnya, hal ini terjadi karena manajer kurang memahami hakekat perilaku dan hubungan antar manusia. Seperti konsep perilaku manusia yang dikemukakan oleh Maslow, dinegara berkembang yang menjadi prioritas adalah kebutuhan fisik, rasa aman, dan diterima oleh lingkungan sedangkan dinegara maju kebutuhan yang menonjol adalah aktualisasi diri dan self esteem. Perbedaan tersebut juga akan mempengaruhi etos kerja dan produktifitas kerja.

E. Faktor – faktor pendukung fungsi penggerakan
Hal – hal yang perlu diperhatikan manajer dalam fungsi penggerakan
1. Manajer harus bekerja lebih produktif
2. Manajer perlu memahami ilmu psikologi, komunikasi, kepemimpinan dan sosiologi
3. Manajer harus mempunyai tekat untuk mencapai kemajuan dan peka terhadap lingkungan
4. Manajer harus bersikap obyektif

F. Funsi actuating di Rumah Sakit
Organisasi RS adalah organisasi yang sangat komplek, kompleksitas tersebut dipengaruhi oleh
1. Sifat pelayanan kesehatan yang berorientasi kepada konsumen penerima jasa pelayanan. Hasil perawatan pasien sebagai customer RS ada tiga kemungkinan yaitu : sembuh sempurna, sembuh dengan kecacatan, dan mati. Apapun kemungkinan hasilnya, kualitas pasien harus diarahkan untuk kepuasan pasien dan keluarga.
2. Pelaksanaan fungsi actuating cukup komplek karena tenaga yang bekerja di RS terdiri dari berbagai profesi.

Kompleksitas ketenagaan dan jenis profesi yang dimiliki RS, menuntut dikembangkannya kepemimpinan partisipatif oleh pihak pimpinan RS. Model kepemimpinan manajerial seperti ini juga merupakan faktor penentu berkembangnya mutu pelayanan RS karena pekerjaan di RS hampir semuanya saling terkait satu sama lain. Sehubungan dengan kompleksitas sistem ketenagaan dan misi yang harus diemban RS, penerapan fungsi actuating pada manajemen RS sangat tergntung dari beberapa faktor yaitu kepemimpinan direktur RS, koordinasi yang dikembangkan oleh masing - masing wadir, komitmen dan profesionalisme tenaga kesehatan yang tersedia di RS dan pemahaman konsumen RS akan jasa layanan yang tersedia di RS. Demikian pula kepemimpinan, komunikasi dan koordinasi merupakan faktor penting di dalam pengembangan fungsi actuating tetapi disisi lain dibutuhkan juga peningkatan keterampilan manajerial.

G. Fungsi actuating di PUSKESMAS
Agar perawatan kesehatan masyarakat dapat berjalan secara berhasil guna dan berdaya guna, maka dilakukan lokakarya mini puskesmas pada tingkat puskesmas atau di masyarakat yang mencakup :
1. Menetapkan pembagian wilayah binaan
2. Menetapkan penanggung jawab dan pelaksana kegiatan
3. Menetapkan uraian tugas koordinator dan pelaksana puskesmas
4. Koordinasi lintas program dan lintas sektoral dari instansi terkait
5. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan petugas puskesmas
6. Menggerakkan partisipasi masyarakat/peran serta masyarakat dan pembinaan kader, daa wisma, dukun bayi,dll
7. Menyediakan kesempatan konsultasi kepada koordinator, penanggung jawab daerah binaan atau pelaksana puskesmas
8. Pimpinan puskesmas melaksanakan bimbingan teknis kegiatan puskesmas kepada koordinator dan penanggung jawab daerah binaan termasuk pelaksanaan puskesmas. Penerapan proses keperawatan dapat meminta bantuan tim penilaian atau kepada institusi pendidikan
9. Pengembangan kegiatan - kegiatan inovatif sesuai kemampuan daerah/masyarakat
DAFTAR PUSTAKA

A.A Gde Muninjaya. (1999).Manajemen Kesehatan.EGC : Jakarta

Elainel la Monica.(1998). Kepemimpinan Dan Manajemen Keperawatan.EGC :
Jakarta

Nasrul E. (1998). Dasar – Dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat. EGC :
Jakarta










Operating Budget Dalam Keperawatan

OPERATING BUDGET DALAM MANAGEMENT KEPERAWATAN

Pengertian Umum Budgeting

Pengertian Budget
Budget (Anggaran) adalah suatu rencana yang disusun secara sistematis, yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan yang dinyatakan dalam unit (kesatuan) moneter dan berlaku untuk jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang.

Dari pengertian di atas nampaknya bahwa suatu Budget mempunyai empat unsur, yaitu:
• Rencana
• Meliputi seluruh kegiatan perusahaan
• Dinyatakan dalam unit moneter
• Jangka waktu tertentu yang akan datang

Manfaat Budget
Manfaat Budget terdiri dari tiga pokok, yaitu :
• Sebagai pedoman kerja
• Yang mana berfungsi sebagai pedoman kerja dan memberikan arahan serta sekaligus memberikan target-target yang harus dicapai oleh kegiatan-kegiatan perusahaan diwaktu yang akan datang.
• Sebagai alat pengawasan kerja
Budget berfungsi pula sebagai tolok ukur, sebagai alat pembanding untuk mengevaluasi realisasi kegiatan perusahaan nanti. Dengan membandingkan apa yang tertuang di dalam Budget dengan apa yang dicapai oleh realisasi kerja perusahaan, dapatlah dinilai apakah perusahaan telah sukses bekerja atau kah kurang sukses bekerja.


Sebagai alat pengkoordinasian kerja
Budget berfungsi sebagai alat untuk mengkoordinasikan kerja agar semua bagian-bagian yang terdapat didalam perusahaan dapat saling menunjang, saling bekerja sama dengan baik untuk menuju ke sasaran yang telah ditetapkan. Dengan demikian kelancaran jalannya perusahaan akan lebih terjamin.

Proses Penyusunan Budget
Sebagaiman telah dijelaskan di atas, suatu Budget dapat berfungsi dengan baik bilamana tafsiran-tafsiran (forecast) yang termuat didalamnya cukup akurat, sehingga tidak jauh berbeda dengan realisasinya nanti. Untuk bisa melakukan penafsiran secara lebih akurat, diperlakukan sebagai data, informasi dan pengalaman, yang merupakan faktor-faktor yang harus dipertimbangkan didalam menyusun Budget. Adapaun faktor-faktor tersebut secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua kelompok, ialah :

Faktor-faktor intern, yaitu data, informasi dan pengalaman yang terdapat di dalam perusahaan sendiri. Faktor-faktor tersebut antara lain berupa :
• Kebijaksanaan perusahaan yang berhubungan dengan masalah harga jual, syarat pembayaran barang yang dijual, pemilihan saluran distribusi dan sebagainya.
• Kapasitas produksi yang dimiliki perusahaan.
• Tenaga kerja yang dimiliki peruahaan, baik jumlahnya (kuantitatif) maupun ketrampilan dan keahliannya (kualitatif).
• Modal kerja yang dimiliki perusahaan.
• Fasilitas-fasilitas lain yang dimiliki perusahaan.
• Kebijaksanaan-kebijaksanaan perusahaan yang berkaitan dengan pelaksanaan fungsi-fungsi perusahaan, baik di bidang pemasaran, dibidang produksi, dibidang pembelanjaan, dibidang administrasi maupun dibidang personalia.

Sampai batas-batas tertentu, perusahaan masih dapat mengatur dan menyesuaikan faktor-faktor intern ini dengan apa yang diinginkan untuk masa yang akan datang. Misalnya Modal Kerja yang sekarang dimiliki dirasakan kurang untuk periode Budget yang akan datang, maka perusahaan dalam batas-batas tertentu masih bisa menambahnya, misalnya dengan meminta kredit ke Bank. Demikian pula halnya dengan mesin-mesin, peralatan-peralatan, tenaga kerja serta fasilitas-fasilitas lain, dalam batas-batas tertentu masih disesuaikan dengan apa yang diinginkan untuk periode budget yang akan datang, baik ditambah maupun dikurangi. Oleh karena itu faktor-faktor intern ini sering disebut sebagai faktor yang controlable (dapat diukur), yaitu faktor-faktor yang dalam batas-batas tertentu masih bisa disesuaikan dengan keinginan atau kebutuhan untuk periode Budget yang akan datang.

Faktor-faktor ekstern, yaitu data, informasi dan pengalaman yang terdapat di luar perusahaan, tetapi dirasa mempunyai pengaruh terhadap kehidupan perusahaan. Faktor-faktor tersebut antara lain berupa :
• Keadaan persaingan
• Tingkat pertumbuhan penduduk
• Tingkat penghasilan masyarakat
• Tingkat pendidikan masyarakat
• Tingkat penyebaran penduduk
• Agama, adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat.
• Berbagai kebijakan pemerintah, baik dibidang politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun keamanan.
• Keadaan perekonomian nasional maupun internasional, kemajuan tehnologi dan sebagainya.

Terhadap faktor-faktor ekstern ini, perusahaan tidak mampu utnuk mengaturnya sesuai dengan apa yang diinginkanya dalam periode Budget yang akan datang. Oleh karena itu faktor-faktor ekstern ini sering disebut sebagai faktor yang un-controlabel (tidak dapat diukur), yaitu faktor-faktor yang tidak dapat diukur dan tidak dapat disesuaikan dengan keinginan perusahaan. Akibatnya perusahaanlah yang harus menyesuaiakan dirinya,  menyesuaikan kebijaksanaan-kebijaksanaannya dengan faktor-faktor tersebut.



PENGERTIAN BUDGETING
Dalam pengertian Budget yang telah diuraikan di atas dapatlah diketahui bahwa Budget merupakan hasil kerja (out-put) yang terutama berupa tafsira-tafsiran yang akan dilaksanakan diwaktu yang akan datang. Karena suatu Budget merupakan hasil kerja (out-put), maka Budget dituangkan dalam suatu naskah tulisan yang disusun secara teratur dan sistematis. Sedangkan yang dimaksudka dengan Budgeting adalah proses kegiatan yang menghasilakan Budget tersebut sebagai hasil kerja (out-put), serta proses kegiatan yang berkaitan dengan pelaksanaan fungsi-fungsi Budget, yaitu fungsi-fungsi pedoman kerja, alat pengkoordinasian kerja dan alat pengawasan kerja. Secara lebih terperinci, proses kegiatan yang tercakup dalam Budgeting tersebut antara lain:
• Pengumpulan data dan informasi yang diperlukan untuk menyusun Budget
• Pengolahan dan penganalisaan data dan informasi tersebut untuk mengadakan tafsiran-tafsiran dalam rangka menyusun Budget.
• Menyusun Budget serta menyajikannya secara teratur dan sistematis.
• Pengkoordinasian pelaksanaan Budget
• Pengumpulan data dan informasi untuk keperluan pengawasan, yaitu untuk mengadakan penilaian (evaluasi) terhadap pelaksanaan Budget.
• Pengolahan dan penganalisaan data tersebut untuk mengadakan interpretasi dan memperoleh kesimpulan-kesimpulan dalam rangka mengadakan penilaian (evaluasi) terhadap kerja yang telah dilaksanakan, serta menyusun kebijaksanaan-kebijaksanaan sebagai tindak lanjut (follow-up) dari kesimpulan-kesimpulan tersebut.

Prosedur Penyususnan Budget
Pada dasarnya yang berwenang dan bertanggung jawab atau menyusun Budget serta pelaksanaan kegiatan Budgeting lainnya, ada ditangan pimpinan tertinggi perusahaan. Hal ini disebabkan karena pimpinan tertinggi perusahaanlah yang paling berwewenang dan paling bertanggung jawab atas kegiatan-kegiatan perusahaan secara keseluruhan. Namun demikian tugas menyiapkan dan menyusun Budget serta kegiatan-kegiatan Budgeting lainnya tidak harus ditangani sendiri oleh pimpinan tertinggi perusahaan, melainkan dapat didelegasikan kepada bagian lain dalam perusahaan. Adapaun siapa-siapa atau bagian apa yang diserahi tugas memprsiapkan dan menyusun Budget tersebut sangat tergantung pada struktur organisasi dari masing-masing perusahaan. Akan tetapi pada garis besarnya tugas mempersiapkan dan menyususn Budget ini dapat didelegasikan kepada :

1. Bagian administrasi, bagian perusahan yang kecil. Hal ini disebabkan karena bagi perusahaan yang kecil, kegiatan-kegiatan perusahaan tidak terlalu kompleks, sederhana, dengan ruang lingkup yang terbatas, sehingga tugas penyusunan Budget dapat diserahkan kepada salah satu bagian saja dari perusahaan yang bersangkutan, dan tidak perlu banyak melibatkan secara aktif seluruh bagian-bagian yang ada dalam perusahaan.
2. Panitia Budget, bagian perusahan yang besar. Hal ini disebabkan karena bagi perusahaan besar, kegiatan-kegiatan perusahaan cukup kompleks, beraneka ragam dengan ruang lingkup yang cukup luas, sehingga Bagian Administrasi tidak mungkin dan tidak mampu lagi untuk menyusun Budget sendiri tanpa partisipasi aktif bagian-bagian lain dalam perusahaan. Oleh sebab itu tugas menyusun Budget perlu melibatkan semua unsur yang mewakili semua bagian yang ada di dalam perusahaan, yang duduk dalam Panitia Budget. Tim penyusunan Budget ini biasanya diketuai oleh pimpinan perusahaan (misalnya Wakil Direktur) dengan anggota-anggota yang mewakili Bagian Pemasaran, Bagian Produksi, Bagian Pembelanjaan, serta Bgaian Personalia. Di dalam Panitia Budget inilah dilakukan pembahasan-pembahasan tentang rencana-rencana kegiatan yang akan datang, sehingga Budget yang tersusun nanti merupakan kesepakatan bersama, sesuai dengan kondisi, fasilitas serta kemampuan masing-masing bagian secara terpadu. Kesepakatan bersama ini penting agar pelaksanaan Budget nanti benar-benar didukung oleh seluruh bagian yang ada dalam perusahaan, sehingga memudahkan terciptanya kerja sama yang saling menunjang dan terkoordinasikan dengan baik.

Baik Budget yang disusun oleh Bagian Administrasi (perusahaan kecil), maupun yang disusun oleh Panitia Budget (perusahaan besar), barulah merupakan Rancangan Budget atau Draft Budget (tentative budget). Rancangan Budget inilah yang diserahkan kepada pimpinan tertinggi untuk disahkan serta ditetapkan sebagai Budget yang defenitif. Sebelum disahkan oleh pimpinan tertinggi perusahaan, masih dimungkinkan untuk diadakan perubahan-perubahan terhadap rancangan tersebut, dan dimungkinkan pula untuk diadakannya pembahsan-pembahasan antara pimpinan tertinggi perusahaan dengan pihak yang diserahi tugas menyusun Rancangan Budget tersebut.
Setelah disahkan oleh pimpinan tertinggi perusahaan, maka Rancangan Budget tersebut telah menjadi Budget yang defenitif, yang akan dijadikan sebagai pedoman kerja, sebagai alat pengkooordinasian kerja dan sebagai alat pengawasan kerja.

Isi Budget
Sebagaimana telah diutarakan di atas, suatu Budget yang baik haruslah mencakup seluruh kegiatan perusahaan, sehingga fungsi-fungsi Budget (pedoman kerja, alat pengkoordinasian kerja dan alat pengawasan kerja) benar-benar dapat berjalan dengan baik pula. Budget yang menyeluruh semacam itu sering dinamakan Budget Komprehensif (Comprehensif Budget).
Adapun isi dari Budget Komprehensif secara garis besar terdiri dari :
1. Forecasting Budget (Budget Tafsiran), yaitu Budget yang berisi tafsiran-tafsiran (forecast) tentang kegiatan-kegiatan perusahaan dalam jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang, serta tafsiran-tafsiran (forecast) tentang keadaan atau posisi finansial perusahaan pada suatu saat tertentu yang akan datang.
2. Variabel Budget (Budget Variabel), yaitu Budget yang berisi tentang tingkat perubahan beaya atau tingkat variabilitas beaya, khususnya beaya-beaya yang termasuk kelompok beaya “semi variabel”, sehubungan dengan adanya perubahan produktivitas perusahaan.
3. Analisa statistik dan matematika pembantu, yaitu analisa-analisa statistik dan matematika yang dipergunakan untuk membuat tafsiran-tafsiran (forecast) serta yang dipergunakan untuk mengadakan penilaian (evaluasi) dalam rangka mengadakan pengawasan kerja. Semua analisa-analisa tersebut perlu dimuat (dilampirkan) di dalam Budget yang disusun, agar setiap waktu dapat diketahui, dapat diperiksa kembali dan dapat dinilai apakah metode dan analisa yang dipergunakan tersebut memang sudah tepat ataukah perlu direvisi sehubungan dengan adanya perubahan faktor-faktor tertentu di waktu yang akan datang nanti.
4. Laporan Budget (Budget Report), yaitu laporan tentang realisasi pelaksanan Budget, yang dilengkapi dengan berbagai analisa perbandingan antara Budget dengan realisasinya itu, sehingga dapat diketahui penyimpangan-penyimpangan yang bersifat positif (menguntungkan) maupun yang bersifat negatif (merugikan), dapat diketahui sebab-sebab terjadinya penyimpangan-penyimpangan tersebut, sehingga dapat ditarik beberapa kesimpulan dan beberapa tindak lanjut (follow-up) yang segera perlu dilakukan. Dengan demikian dari Laporan Budget sekaligus dapat diadakan penilaian (evaluasi) tentang sukses atau tidaknya kerja perusahaan selama jangka waktu (periode) yang bersangkutan.


OPERATING BUDGET
Seperti yang telah diuraikan di atas, bahwa salah satu isi Budget adalah Forecasting Budget, yang diartikan sebagai Budget yang berisi tafsira-tafsiran (forecast) tentang kegiatan-kegiatan perusahan dalam jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang, serta berisi tafsira-tafsiran (forecast) tentang keadaan atau kondisi finansial perusahaan pada suatu saat yang akan datang.

Dari pengertian terebut nampaknya bahwa Forecasting Budget terdiri dari dua kelompok Budget, yaitu :
• Operating Budget (Budget Operasional)
• Finansial Budget (Budget Finansial)

Pengertian Operating Budget
Operating Budget adalah Budget yang berisi tafsiran-tafsiran tentang kegiatan-kegiatan perusahaan dalam jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang.

Operating Budget merencanakan tentang kegiatan-kegiatan perusahaan selama periode tertentu yang akan datang. Pada dasarnya kegiatan-kegiatan perusahaan selama periode tertentu itu meliputi dua sektor, yaitu :

Sektor Penghasilan ( revenues), ialah pertambahan Aktiva perusahaan yang mengakibatkan bertambahnya Modal Sendiri, tetapi bukan karena penambahan setoran modal baru dari para pemiliknya, dan bukan pula merupakan pertambahan Aktiva perusahaan yang disebabkan karena bertambah Utang. Sering pula dikatakan bahwa Penghasilan adalah suatu kondisi prestasi yang diterima oleh perusahaan atas “sesuatu” yang diberikan kepada pihak lain, atau atas jasa-jasa yang diberikan kepada pihak lain.

Dipandang dari sudut hubungannya dengan usaha utama perusahaan, penghasilan dapat dibedakan menjadi dua sub sektor, yaitu :
• Sub-sektor Penghasilan Utama (Operating Revenues), ialah penghasilan yang diterima perusahaan, yang berasal dan berhubungan erat dengan usaha pokok perusahaan.
• Sub-sektor Penghasilan Bukan Utama (Non-Operating Revenues), ialah penghasilan yang diterima perusahaan, yang tidak berasal dan tidak berhubungan erat dengan usaha pokok perusahaan, melainkan dari usaha sampingan perusahaan.

Sektor Beaya (Expenses), ialah pengurangan Aktiva perusahaan yang mengakibatkan berkurangnya Modal Sendiri, tetapi bukan karena pengurangan (pengambilan) modal oleh para pemiliknya, dan bukan pula merupakan pengurangan Aktiva perusahaan yang disebabkan karena berkurangnya utang. Sering pula dikatakan bahwa Beaya adalah suatu kontra pretasi yang diberikan oleh perusahaan atas “ sesuatu” yang diterima dari pihak lain, atau jasa-jasa yang diterima dari pihak lain.

Dipandang dari sudut hubungannya dengan usaha utama perusahaan, beaya dapat dibedakan menjadi dua sub-sektor, yaitu :

(a) Sub-sektor Beaya Utama (Operating Expenses), ialah beaya yang menjadi beban tanggungan perusahaan, yang berhubungan erat dengan usaha pokok perusahaan.
Dalam perusahaan industri, Beaya Utama dibedakan lagi ke dalam tiga kelompok beaya, yaitu :

Beaya Pabrik (Factory Cost), ialah semua beaya yang terjadi serta terdapat di dalam lingkungan tempat dimana proses produksi berlangsung. Beaya-beaya Pabrik ini dibedakan lagi dalam tiga kelompok, yaitu:
• Beaya Bahan Mentah (Direct Materials), ialah beaya yang terdiri dari semua bahan-bahan yang dikerjakan di dalam proses produksi, untuk diubah menjadi barang lain yang nantinya akan dijual.
• Upah Tenaga Kerja Langsung (Direct Labour), ialah upah yang dibayarkan perusahaan kepada para tenaga kerja yang secara langsung memproses bahan mentah, untuk diubah menjadi barang lain yang nantinya akan dijual.
• Beaya Pabrik Tidak Langsung (Factory Overhead), ialah semua beaya yang terdapat di dalam lingkungan pabrik, tetapi tidak secara langsung berhubungan dengan kegiatan proses produksi, yaitu proses mengubah bahan mentah menjadi bahan lain yang nantinya akan dijual. Termasuk dalam kelompok Beaya Pabrik Tidak Langsung ini antara lain Beaya Bahan Pembantu (Indirect Materials), Upah Tenaga Kerja Tidak Langsung (Indirect Labour), Beaya Pemeliharaan Pabrik (Factory Maintenance) Beaya Reparasi Pabrik (Factory Repair), Depresiasi Gedung Pabrik (Depreciation of Factory Equipment), Beaya Listrik Pabrik (Factory Heat  and Light) dan sebagainya.

Beaya Administrasi (Administration Expenses), ialah semua beaya yang terjadi serta terdapat di dalam lingkungan kantor administrasi perusahaan, serta beaya-beaya lain yang sifatnya untuk keperluan perusahaan secara keseluruhan. Termasuk dalam kelompok Beaya Administrasi ini antara lain :
• Gaji Karyawan Kantor (Office Salaries), ialah gaji yang dibayarkan kepada para karyawandi kantor administrasi.
• Gaji Pemeliharaan Kantor (Office Manintenance), ialah beaya untuk pemeliharaan ruangan dan peralatan kantor administrasi.
• Beaya Perbaikan Kantor (Office Repair), ialah beaya untuk perbaikan ruangan dan peralatan kantor administrasi.
• Depresiasi Peralatan Kantor (Depreciation of Office Furniture), ialah beban depresiasi terhadap peralatan-peralatan di kantor administrasi.
• Depresiasi Gedung Kantor (Depreciation of Office Building), ialah beban depresiasi terhadap bangunan (gedung) kantor administrasi.
• Beaya Listrik Kantor (Office Heat and Light), ialah beaya listrik untuk keperluan kantor administrasi.
• Beaya Telepon Kantor (Office Telephone), ialah beaya telepon untuk keperluan kantor administrasi.
• Beaya Asuransi Kantor (Office Insurance), ialah biaya asuransi terhadap bagunan serta peralatan kantor administrasi.
• Beaya Supplies Kantor (Office Supplies), ialah biaya untuk keperluan-keperluan tulis-menulis serta keperluan-keperluan kecil lainnya di kantor administrasi, seperti kertas, karbon, lem, tinta, matera, perangko, dan sebagainya.

Beaya Penjualan (Selling Expenses), ialah semua biaya yang terjadi serta terdapat di dalam lingkungan Bagian Penjualan, serta beaya-beaya lain yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Bagian Penjualan. Termasuk dalam kelompok Beaya Penjualan ini antara lain:
• Gaji Karyawan Penjualan : (Store Salaries), ialah gaji yang dibayarkan kepada para karyawan di Bagian Penjualan.
• Beaya Pemeliharaan Bagian Penjualan (Store Maintanance), ialah beaya untuk pemeliharaan ruangan dan peralatan Bagian Penjualan.
• Beaya Perbaikan Bagian Penjualan (Store Repair), ialah beaya untuk perbaikan ruangan dan peralatan Bagian Penjualan.
• Depresiasi Peralatan Bagian Penjualan (Depreciation of Store Furnitures), ialah beban depresiasi terhadap peralatan-peralatan Bagian Penjualan.
• Depresiasi Gedung Bagian Penjualan (Depreciation of Store Building), ialah beban depresiasi terhadap bangunan (gedung) Bagian Penjualan.
• Beaya Listrik Bagian Penjualan (Store Heat and Light), ialah beaya listrik untuk keperluan Bagian Penjualan.
• Beaya Telpon Bagian Penjualan (Store Telephone), ialah beaya telepon untuk keperluan Bagian Penjualan.
• Beaya Asuransi Bagian Penjualan (Store Insurance), ialah beaya asuransi terhadap bangunan serta peralatan Bagian Penjualan.
• Beaya Supplies Bagian Penjualan (Store Suplieses), ialah beaya untuk keperluan-keperluan kecil lainnya di Bagian Penjualan, seperti kertas, karbon, tinta, tali, dan sebagainya.
• Beaya Advertensi (Advertising), ialah beaya pemasangan iklan diberbagai media massa untuk keperluan meningkatkan penjualan.


(a).Sektor-sektor Beaya Buka Utama (Non-Operating Expenses), ialah beaya yang menjadi beban tanggungan perusahaan, yang tidak berhubungan erat dengan usaha pokok prusahaan.

Dari uraian serta pembahsan di atas telah diketahui bahwa Operating Budget merencanakan tentang kegiatan-kegiatan perusahaan selama periode tertentu yang akan datang, baik kegiatan yang berhubungan dengan sektor penghasilan maupun kegiatan yang berhubungan dengan sektor beaya.
Di dalam akutansi, kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan sektor penghasilan berhubungan dengan sektor beaya ini pada akhir periode dituangkan dalam Laporan Rugi-Laba (Income Statement) perusahaan. Bilamana selama bekerja dalam periode yang bersangkutan, penghasilan lebih besar dari beban beayayang harus ditanggung, berarti perusahaan memperoleh keuntungan, sedangkan bilamana selama bekerja dalam periode yang bersangkutan, penghasilan yang diterima lebih kecil daripada beban beaya yang harus ditanggung, berarti perusahaan menderita kerugian. Oleh karena itu Operating Budget sering pula disebut sebagai Income Statement Budget (Budget Rugi-Laba).

Atas dasar kelengkapan isinya, Income Statement Budget dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :

(1) . Master Income Statement Budget (Budget Induk Rugi-Laba), ialah Budget tentang penghasilan dan beaya perusahaan, yang berisi tafsiran-tafsiran secara garis besar (global) dan kurang dijabarkan secara lebih  terperinci, seperti misalnya tafsiran-tafsiran semesteran, tahunan dan sebagainya.
(2) . Income Statement Supporting Budget (Budget Penunjang Rugi-Laba), ialah Budget tentang penghasilan dan beaya perusahaan, yang berisi tafsiran-tafsiran yang lebih terperinci, seperti misalnya terperinci dari waktu ke waktu (bulanan), terperinci menurut bagian (departemen) yang ada dan sebagainya. Dengan demikian Income Statement Supporting Budget ini merupakan penjabaran serta perincian lebih lanjut dari Master Income Statement Budget yang hanya memuat tafsiran-tafsiran secara garis besar saja, masih belum memungkinkan Budget tersebut menjalankan fungsinya. Agar supaya Budget dapat berfungsi sebagai pedoman kerja, sebagai alat koordinasi kerja dan sebagai alat pengawas kerja, maka Budget harus disusun secara jelas dan terperinci.
Tahap-tahap Penyusunan Operating Budget
Operating Budget secara terperinci disusun dalam Income Statement Supporting Budget, yang pada dasarnya berisi Budget tentang penghasilan, yaitu tentang Budget penjualan, dan Budget-Budget tentang beaya, yaitu Budget Produksi serta Budget Beaya Administrasi dan Budget Beaya Penjualan.
Antara Budget tentang penghasilan dengan Budget-Budget tentang Beaya tersebut mempunyai hubungan timbal balik yang sangat erat. Di satu pihak, besar kecilnya penjualan (penghasilan) mungkin ditentukan (dipengaruhi) oleh besar kecilnya produksi (beaya), tetapi di pihak lain, besarnya produksi (beaya) mungkin justru ditentukan (dipengaruhi) oleh besarnya penjualan. Dengan perkataan lain, ada dua alternatif kemungkinan tentang hubungan timbal balik antara produksi dengan penjualam tersebut, yaitu :


(a) Alternatif Pertama
Besarnya penjualan ditentukan oleh besarnya produksi. Ini berarti bahwa berapa jumlah penjualan perusahaan selama periode yang akan datang ditentukan oleh berapa jumlah barang yang mampu diproduksi perusahaan selama periode tersebut. Dengan demikian jika selama periode yang akan datang, perusahaan mampu memproduksi barang dalam jumlah yang besar, maka sebesar itu pulalah jumlah penjualan yang akan dilakukan perusahaan dalam periode tersebut. Sebaliknya jika selama periode yang akan datang, perusahaan hanya mampu memproduksikan barang dalam jumlah sedikit, maka sejumlah sedikit pulalah penjualan yang akan dilakukan perusahaan selama periode tersebut.

(b). Alternatif kedua
Besarnya produksi justru ditentukan oleh besarnya penjualan. Ini berarti bahwa jumlah barang yang akan diproduksi perusahaan selama periode yang akan datang ditentukan oleh berapa jumlah barang yang mampu dijual (dipasarkan) oleh perusahaan selama periode tersebut. Dengan demikian, jika selama periode yang akan datang, perusahaan mampu menjual (memasarkan) barang dalam jumlah yang besar, maka sebesar itu pulalah produksi yang yang akan dilakukan perusahaan, dalam periode tersebut. Sebaliknya jika selama periode yang akan datang perusahaan hanya mampu menjual (memasarkan) barang dalam jumlah yang sedikit, maka sejumlah sedikit itu pulalah produksi yang akan dilakukan perusahaan dalam periode yang akan datang.

Photobucket